Dalam ilmu nahwu, terdapat beberapa kata yang dapat memengaruhi kedudukan i'rab sebuah kalimat. Salah satunya adalah Kana wa Akhawatuha (كَانَ وَأَخَوَاتُهَا).
Kana wa Akhawatuha merupakan kelompok fi'il naqish yang masuk ke dalam jumlah ismiyah. Ketika masuk ke dalam kalimat, kata ini menyebabkan perubahan pada kedudukan mubtada dan khabar.

Secara sederhana, kaidahnya adalah:
كَانَ + مُبْتَدَأٌ + خَبَرٌ
menjadi:
كَانَ + اسْمُ كَانَ + خَبَرُ كَانَ
Mubtada yang sebelumnya marfu' tetap menjadi marfu', tetapi kedudukannya berubah menjadi isim Kana. Sementara itu, khabar yang sebelumnya marfu' berubah menjadi manshub dan disebut khabar Kana.
Pengertian Kana wa Akhawatuha
Secara bahasa, كَانَ berarti "ada", "menjadi", atau menunjukkan keadaan yang telah terjadi, tergantung konteks kalimat.
Sedangkan Kana wa Akhawatuha (كَانَ وَأَخَوَاتُهَا) secara istilah adalah kelompok fi'il naqish yang masuk ke dalam jumlah ismiyah dan menyebabkan perubahan hukum i'rab pada mubtada dan khabar.
Contohnya:
الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ
Artinya: Siswa itu rajin.
Kalimat tersebut terdiri dari:
- الطَّالِبُ = mubtada, marfu'
- مُجْتَهِدٌ = khabar, marfu'
Jika dimasuki Kana:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Artinya: Siswa itu dahulu/berada dalam keadaan rajin.
Perubahannya:
- الطَّالِبُ menjadi isim Kana dan tetap marfu'
- مُجْتَهِدًا menjadi khabar Kana dan menjadi manshub
Inilah kaidah dasar Kana wa Akhawatuha.
Fungsi Kana wa Akhawatuha
Fungsi utama Kana wa Akhawatuha adalah memberikan makna tertentu terhadap jumlah ismiyah sekaligus mengubah i'rab mubtada dan khabar.
Secara umum:
| Sebelum Kana | Setelah Kana |
|---|---|
| Mubtada marfu' | Isim Kana marfu' |
| Khabar marfu' | Khabar Kana manshub |
Contoh:
الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ
menjadi:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Perubahan tersebut harus diperhatikan ketika melakukan i'rab.
Anggota Kana wa Akhawatuha
Beberapa fi'il yang termasuk dalam Kana wa Akhawatuha antara lain:
| Fi'il | Makna umum |
|---|---|
| كَانَ | telah/berada dalam keadaan |
| أَصْبَحَ | menjadi pada waktu pagi / menjadi |
| أَضْحَى | menjadi pada waktu siang |
| أَمْسَى | menjadi pada waktu sore |
| ظَلَّ | tetap/terus dalam keadaan |
| بَاتَ | berada pada malam hari |
| صَارَ | menjadi |
| لَيْسَ | tidak/bukan |
| مَا زَالَ | masih/terus |
| مَا بَرِحَ | masih/terus |
| مَا فَتِئَ | masih/terus |
| مَا انْفَكَّ | masih/terus |
| مَا دَامَ | selama |
Tidak semua anggota tersebut memiliki makna yang sama. Sebagian menunjukkan waktu, perubahan keadaan, penafian, atau keberlangsungan suatu keadaan.
Contoh Penggunaan Kana
1. كَانَ
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Artinya: Siswa itu dahulu/berada dalam keadaan rajin.
I'rab:
- كَانَ = fi'il madhi naqish
- الطَّالِبُ = isim Kana, marfu'
- مُجْتَهِدًا = khabar Kana, manshub
2. أَصْبَحَ
أَصْبَحَ الْجَوُّ جَمِيلًا
Artinya: Cuaca menjadi indah pada pagi hari.
I'rab:
- أَصْبَحَ = fi'il madhi naqish
- الْجَوُّ = isim Asbaha, marfu'
- جَمِيلًا = khabar Asbaha, manshub
3. أَمْسَى
أَمْسَى الطَّالِبُ مُتْعَبًا
Artinya: Siswa itu menjadi lelah pada sore hari.
- أَمْسَى = fi'il madhi naqish
- الطَّالِبُ = isim Amsa, marfu'
- مُتْعَبًا = khabar Amsa, manshub
4. صَارَ
صَارَ الطِّفْلُ رَجُلًا
Artinya: Anak itu menjadi seorang laki-laki.
Kata صَارَ menunjukkan perubahan keadaan.
- الطِّفْلُ = isim Shara, marfu'
- رَجُلًا = khabar Shara, manshub
5. لَيْسَ
لَيْسَ الطَّالِبُ كَسْلَانَ
Artinya: Siswa itu tidak malas.
- لَيْسَ = fi'il madhi naqish
- الطَّالِبُ = isim Laisa, marfu'
- كَسْلَانَ = khabar Laisa, manshub
6. مَا زَالَ
مَا زَالَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Artinya: Siswa itu masih rajin.
Kata مَا زَالَ menunjukkan keadaan yang masih berlangsung.
- الطَّالِبُ = isim Ma Zala, marfu'
- مُجْتَهِدًا = khabar Ma Zala, manshub
Perubahan Mubtada dan Khabar Setelah Masuk Kana
Perhatikan perbandingan berikut.
| Jumlah Ismiyah | Setelah Kana |
|---|---|
| الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ | كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا |
| الْجَوُّ جَمِيلٌ | أَصْبَحَ الْجَوُّ جَمِيلًا |
| الطَّالِبُ مُتْعَبٌ | أَمْسَى الطَّالِبُ مُتْعَبًا |
| الطِّفْلُ صَغِيرٌ | صَارَ الطِّفْلُ صَغِيرًا |
Perhatikan bahwa kata pertama tetap marfu', sedangkan kata kedua berubah menjadi manshub.
Isim Kana dan Khabar Kana
Setelah Kana atau salah satu saudarinya masuk ke dalam jumlah ismiyah, terdapat dua unsur utama:
1. Isim Kana
Isim Kana adalah isim yang sebelumnya berkedudukan sebagai mubtada.
Hukumnya:
Isim Kana = marfu'
Contoh:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Kata الطَّالِبُ merupakan isim Kana dan berkedudukan marfu'.
2. Khabar Kana
Khabar Kana adalah bagian yang memberikan informasi tentang isim Kana.
Hukumnya:
Khabar Kana = manshub
Contoh:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Kata مُجْتَهِدًا merupakan khabar Kana dan berkedudukan manshub.
Tanda I'rab Isim Kana
Karena isim Kana hukumnya marfu', tanda i'rabnya dapat berupa dhammah, alif, atau waw sesuai jenis katanya.
Isim tunggal
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
الطَّالِبُ = isim Kana marfu' dengan tanda dhammah.
Isim mutsanna
كَانَ الطَّالِبَانِ مُجْتَهِدَيْنِ
Artinya: Kedua siswa itu rajin.
الطَّالِبَانِ = isim Kana marfu' dengan tanda alif.
Jamak mudzakkar salim
كَانَ الْمُعَلِّمُونَ حَاضِرِينَ
Artinya: Para guru hadir.
الْمُعَلِّمُونَ = isim Kana marfu' dengan tanda waw.
Tanda I'rab Khabar Kana
Karena khabar Kana hukumnya manshub, tanda i'rabnya juga mengikuti jenis katanya.
Contoh isim tunggal:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
مُجْتَهِدًا = khabar Kana manshub dengan tanda fathah.
Contoh mutsanna:
كَانَ الطَّالِبَانِ مُجْتَهِدَيْنِ
مُجْتَهِدَيْنِ = khabar Kana manshub dengan tanda ya'.
Contoh jamak mudzakkar salim:
كَانَ الْمُعَلِّمُونَ حَاضِرِينَ
حَاضِرِينَ = khabar Kana manshub dengan tanda ya'.
Bentuk Khabar Kana
Khabar Kana tidak selalu berupa satu kata. Khabar dapat berupa:
- Khabar mufrad
- Khabar jumlah
- Khabar syibhul jumlah
Khabar Mufrad
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Artinya: Siswa itu rajin.
Kata مُجْتَهِدًا merupakan khabar Kana berupa satu kata.
Khabar Jumlah
كَانَ الطَّالِبُ يَدْرُسُ
Artinya: Siswa itu sedang belajar.
Bagian يَدْرُسُ menjadi jumlah fi'liyah yang berfungsi sebagai khabar.
Khabar Syibhul Jumlah
كَانَ الطَّالِبُ فِي الْفَصْلِ
Artinya: Siswa itu berada di dalam kelas.
Bagian فِي الْفَصْلِ merupakan jar-majrur yang berfungsi sebagai khabar Kana.
Hubungan Kana wa Akhawatuha dengan Jumlah Ismiyah
Kana wa Akhawatuha sangat erat hubungannya dengan jumlah ismiyah.
Pola dasarnya:
مُبْتَدَأٌ + خَبَرٌ
Contoh:
الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ
Setelah dimasuki Kana:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Maka:
- Mubtada → menjadi isim Kana
- Khabar → menjadi khabar Kana
- Isim Kana → marfu'
- Khabar Kana → manshub
Dengan memahami pola ini, kita dapat lebih mudah melakukan i'rab pada kalimat yang mengandung Kana wa Akhawatuha.
Perbedaan Kana wa Akhawatuha dengan Jumlah Fi'liyah
Kana wa Akhawatuha sendiri termasuk fi'il, sehingga kalimat yang mengandungnya dapat memiliki bentuk yang menyerupai jumlah fi'liyah.
Namun, fungsi Kana berbeda dengan fi'il yang menunjukkan pekerjaan seperti كَتَبَ atau ذَهَبَ.
Contoh:
كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ
Artinya: Siswa menulis pelajaran.
Dalam kalimat tersebut:
- كَتَبَ = fi'il
- الطَّالِبُ = fa'il
- الدَّرْسَ = maf'ul bih
Sedangkan:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
- كَانَ = fi'il naqish
- الطَّالِبُ = isim Kana
- مُجْتَهِدًا = khabar Kana
Untuk memahami konsep pelaku dalam kalimat fi'liyah, baca juga artikel Fa'il dalam Bahasa Arab.
Untuk memahami objek dalam kalimat bahasa Arab, baca artikel Maf'ul Bih dalam Bahasa Arab.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan ketika mempelajari Kana wa Akhawatuha.
1. Membuat isim Kana menjadi manshub
Salah:
كَانَ الطَّالِبَ مُجْتَهِدًا
Benar:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Isim Kana tetap marfu'.
2. Membuat khabar Kana tetap marfu'
Salah:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدٌ
Benar:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Khabar Kana harus manshub jika berupa khabar mufrad.
3. Menyamakan Kana dengan fi'il biasa
Kana memiliki fungsi khusus karena memengaruhi jumlah ismiyah.
Karena itu, ketika menemukan Kana atau salah satu saudarinya, perhatikan hubungan antara fi'il tersebut dengan isim dan khabarnya.
Cara Mudah Menentukan Isim dan Khabar Kana
Gunakan empat langkah berikut:
Langkah 1: Cari Kana atau saudarinya
Misalnya:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Temukan kata كَانَ.
Langkah 2: Cari isim setelah Kana
Kata الطَّالِبُ adalah isim Kana.
Langkah 3: Cari informasi tentang isim tersebut
Kata مُجْتَهِدًا memberikan informasi tentang siswa.
Maka kata tersebut adalah khabar Kana.
Langkah 4: Periksa i'rab
Pastikan:
- Isim Kana = marfu'
- Khabar Kana = manshub
Dengan cara ini, menentukan kedudukan kata dalam kalimat menjadi lebih mudah.
Hubungan Kana wa Akhawatuha dengan Artikel Bahasa Arab Lainnya
Materi Kana wa Akhawatuha sebaiknya dipelajari setelah memahami dasar-dasar nahwu dan struktur kalimat bahasa Arab.
Untuk memperkuat pemahaman, pelajari juga:
- Fa'il dalam Bahasa Arab, terutama untuk memahami pelaku dalam jumlah fi'liyah.
- Maf'ul Bih dalam Bahasa Arab, untuk memahami objek dalam kalimat.
- Jumlah Fi'liyah dalam Bahasa Arab, untuk memahami struktur kalimat yang diawali fi'il.
Ketiga materi tersebut saling berkaitan dalam memahami struktur kalimat bahasa Arab.
Ringkasan Kana wa Akhawatuha
Kana wa Akhawatuha adalah kelompok fi'il naqish yang masuk ke dalam jumlah ismiyah.
Kaidah utamanya:
Isim Kana = marfu'
Khabar Kana = manshub
Contoh paling sederhana:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Artinya: Siswa itu dahulu/berada dalam keadaan rajin.
Dalam kalimat tersebut:
- كَانَ = fi'il naqish
- الطَّالِبُ = isim Kana, marfu'
- مُجْتَهِدًا = khabar Kana, manshub
Dengan memahami kaidah tersebut, kita dapat lebih mudah membaca, menerjemahkan, dan melakukan i'rab terhadap kalimat yang mengandung Kana wa Akhawatuha.
FAQ tentang Kana wa Akhawatuha
Apa yang dimaksud dengan Kana wa Akhawatuha?
Kana wa Akhawatuha adalah kelompok fi'il naqish yang masuk ke dalam jumlah ismiyah dan menyebabkan mubtada menjadi isim Kana serta khabar menjadi khabar Kana.
Apa hukum isim Kana?
Isim Kana hukumnya marfu'.
Apa hukum khabar Kana?
Khabar Kana hukumnya manshub.
Apa contoh Kana wa Akhawatuha?
Contohnya antara lain:
كَانَ، أَصْبَحَ، أَضْحَى، أَمْسَى، ظَلَّ، بَاتَ، صَارَ، لَيْسَ
serta beberapa bentuk seperti مَا زَالَ، مَا بَرِحَ، مَا فَتِئَ، مَا انْفَكَّ، مَا دَامَ.
Apa perbedaan Kana dengan Laisa?
Keduanya termasuk Kana wa Akhawatuha, tetapi لَيْسَ secara umum digunakan untuk menunjukkan penafian atau meniadakan suatu keadaan.
Contoh:
لَيْسَ الطَّالِبُ كَسْلَانَ
Artinya: Siswa itu tidak malas.
Apakah khabar Kana selalu berupa satu kata?
Tidak. Khabar Kana dapat berupa khabar mufrad, jumlah, maupun syibhul jumlah.
Kesimpulan
Kana wa Akhawatuha (كَانَ وَأَخَوَاتُهَا) merupakan salah satu materi penting dalam ilmu nahwu karena berkaitan langsung dengan perubahan i'rab dalam jumlah ismiyah.
Kaidah yang paling penting untuk diingat adalah:
كَانَ + اسْمُ كَانَ + خَبَرُ كَانَ
dengan ketentuan:
Isim Kana = marfu'
Khabar Kana = manshub
Contoh:
كَانَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا
Dengan memahami pola tersebut, kita akan lebih mudah mempelajari materi lanjutan seperti Isim Kana dan Khabar Kana, serta memahami perubahan i'rab dalam berbagai struktur kalimat bahasa Arab.
Kata Kunci
Kana wa Akhawatuha, Kana wa Akhawatuha dalam bahasa Arab, pengertian Kana wa Akhawatuha, contoh Kana wa Akhawatuha, fungsi Kana wa Akhawatuha, Isim Kana, Khabar Kana, i'rab Kana, fi'il naqish, belajar nahwu bahasa Arab.
Posting Komentar untuk "Kana wa Akhawatuha dalam Bahasa Arab: Pengertian, Fungsi, Contoh, dan I'rab"
Kritik dan Saran yang membangun sangat kami butuhkan